Kekasih sejatiku telah tersembelih dengan sangat menyedihkan karena ulahmu, Tan Malaka. Sampai kiamat pun, aku tak akan pernah memaafkanmu karena kamu terlalu biadab! Sejak Oktober 1945, mulutmu telah menghasut seluruh pemuda Partai Komunis Indonesia di seantero Nusantara untuk membunuh saudara sebangsa sendiri hingga tak terhitung jumlahnya, mulai dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan.
Kamulah yang bertanggung jawab atas Gerakan Antiswapraja yang menyebabkan ribuan batok kepala anak negeri terpancung dan menggenangi bumi pertiwi. Semua itu demi mimpi busukmu mendirikan negara komunis dan ambisimu menjadi presiden di nusantara ini. Tan, sebagai penyebab ajal kekasihku, aku ingin menjejalkan kenangan masa mudaku yang penuh cinta ke mulutmu. Tak ada yang bisa menggantikan kekasih hatiku berdarah Melayu yang mengajariku bahasa Arab saat kami bersekolah di AMS Surakarta pada 1930.
Kekasihku, yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1975, selalu menyebutku gadis berwajah oval dengan mata jernih. Ia pernah menghadiahi sajak manis: “Amat bersahaja cempaka bunga putih arona, hijau nen tempuk pantas benar suntingan adinda terlebih pula di sanggul duduk.”
Gerakanmu telah membenamkan nyawa kekasihku yang aktif di Jong Sumateranen Bond dan Gagasan Indonesia Muda yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928. Ia adalah sosok yang mengajak pelajar turun ke desa untuk mengajar petani membaca. Meskipun ia akhirnya menikah dengan Tengku Kamaliah pada 1935, aku tetap mencintainya, bahkan Kamaliah telah mengikhlaskan jika kekasihku ingin meminangku sebagai istri kedua setelah proklamasi.
Namun, sebelum cinta kami menyatu, gerombolan Antiswapraja bentukanmu telah meremukkan nyawanya. Pada 7 Maret 1946, kamu menorehkan sayatan mendalam di dadaku, seorang putri keturunan Keraton Surakarta. Usman Parinduri, atas perintahmu, menculik keluarga kerajaan Langkat, termasuk kekasihku, penyair Amir Hamzah.
Lebih biadab lagi, Usman menyeret Amir ke perkebunan di Kwala Begumit, memaksanya menggali lubang, menyiksanya, dan akhirnya memancung kepalanya pada 20 Maret 1946 dalam usia 35 tahun. Beberapa saudaranya pun ikut dipancung dalam revolusi licik tersebut. Baru pada tahun 1948 jasadnya ditemukan dan diidentifikasi melalui gigi palsunya yang hilang, lalu dikebumikan di Masjid Azizi, Tanjung Pura.
Fragmen puisi terakhirnya, Boeah Rindoe, ditemukan di selnya: “Wahai maut, datanglah engkau Lepaskan aku dari nestapa Padamu lagi tempatku berpaut Di saat ini gelap gulita”
Selain membunuh Amir Hamzah, gerakanmu juga menghancurkan Daerah Istimewa Surakarta, membunuh KRMH Sosrodiningrat dan KRMT Yudonagoro, serta merampas tanah rakyat. Di Sumatra Utara, keluarga raja tumpas meski mereka telah menyatakan berdiri teguh di belakang Republik Indonesia. Di Istana Tanjungpura, dua putri Sultan Langkat diperkosa oleh Usman Parinduri dan Marwan sebagai syarat menyelamatkan ayah mereka, namun pada akhirnya mereka tetap ditumpas habis.
Di Simalungun, pembantaian dikomandoi oleh A.E. Saragih Ras dari Barisan Harimau Liar. Berbagai kekejian ini membuatku tak kuat lagi menuliskannya. Semoga di kuburmu, kamu menyesal telah melakukan semua ini.
Sumber: Dua Hati Mengikat Janji, Kepala Kekasih Disembelih, dalam buku Ayat-Ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon, CORDOBA Books, 2015.









