Tragedi Negara Talang: Pemberontakan dan Teror Sang Jagal Berwajah Kutil

Lahir dengan nama Sakhyani, pria ini merasa Tuhan telah mengutuknya sejak lahir karena bintil-bintil hitam (kutil) yang memenuhi wajahnya. Ketidakadilan fisik ini menumbuhkan kemarahan yang mendalam terhadap Sang Pencipta, yang kemudian ia tumpahkan melalui perilaku nakal dan keliarannya di dermaga pelabuhan Tegal. Di sana, ia tidak hanya belajar tentang kemaksiatan, tetapi juga mengenal ideologi komunisme yang dianggapnya sebagai muara atas segala keresahannya terhadap ketidakadilan dunia.

Kutil menjadi aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) dan memimpin pemberontakan yang gagal di Tegal pada tahun 1926. Akibatnya, ia dibuang ke penjara Digul, Papua. Namun, ia berhasil melarikan diri setelah membunuh sipir Belanda dan mencuri perahu untuk kembali ke Tegal. Sekembalinya ke Tegal, ia menyamar sebagai tukang cukur di Desa Kajen dengan nama “Pangkalan Cukur Kutil”. Untuk menjaga pengaruhnya, ia sengaja memajang sebilah pedang panjang (gobang) di meja cukur dan membangun reputasi sebagai bagian dari jaringan bandit pelabuhan.

Strategi licik lainnya adalah berpura-pura menjadi sosok religius. Meskipun membenci konsep ketuhanan, Kutil sering diminta memimpin pengajian Al-Quran dan menggunakan sapaan Islami agar tidak dicurigai oleh pemerintah Belanda. Ia bahkan memanfaatkan pengaruh tokoh agama seperti Kyai Makdum untuk mendapatkan legitimasi magis dan kepercayaan masyarakat terhadap gerombolan banditnya yang disebut Lenggaong Kutil.

Pasca Proklamasi 1945, Kutil bergerak cepat membangkitkan gerakan komunis. Ia menolak proklamasi versi Soekarno dan bertekad mendirikan “Negara Talang” di wilayah Tegal, Brebes, dan Pekalongan. Mengikuti instruksi gerakan Antiswapraja dari Tan Malaka, Kutil memimpin organisasi AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) untuk mengganti seluruh unsur pejabat pemerintah. Dalam proses ini, ia melakukan penyembelihan besar-besaran terhadap para bangsawan, polisi, dan pejabat yang menentang komunisme.

Kekejamannya sangat nyata:

  • Ia menangkap dan menyembelih pejabat pemerintah di jembatan Talang.
  • Ia menghina Lurah Cerih, Raden Mas Harjowiyono, dengan memaksanya minum air mentah dan makan dedak layaknya ayam.
  • Ia mengeksekusi Camat Adiwerna, R.M. Suparto Sastrosuworo, yang kepalanya pecah setelah diseret dan terinjak.
  • Ia menyiksa anak sulung Wedana Adiwerna dengan menjatuhkannya ke batu besar berulang kali hingga tewas.
  • Ia mengarak Raden Ajeng Kardinah (adik kandung R.A. Kartini) keliling kota dengan pakaian goni setelah gagal menyembelih Bupati Tegal.

Masa kejayaan Kutil berakhir saat ia mencoba menyerang Pekalongan. Sempat tertangkap namun lolos saat Agresi Militer Belanda, Kutil akhirnya ditangkap kembali di Jakarta pada tahun 1949 saat sedang bekerja sebagai tukang cukur. Permohonan grasinya ditolak oleh Presiden Soekarno, dan ia akhirnya dieksekusi mati di Pantai Pekalongan pada 5 Mei 1951.


Sumber Tulisan:

Afifi, A., & Zuharon, T. (2015). Kutil: Penyembelihan ini adalah Gugatan terhadap Tuhan. Dalam Ayat-Ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI (hlm. 15–28). Jakarta: Jagat Publishing.

Author: AdminSejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *