Tanyakan kepada pasir dan air Pantai Mauk, Tangerang, yang menjadi saksi bisu atas aksi Laskar Ubel-Ubel Hitam. Deru ombaknya memberikan pesan dan cerita tentang nasib tragis seorang tokoh nasional, Otto Iskandar Dinata, sebuah peristiwa sejarah yang nyaris hilang ditelan ombak.
Kesaksian ini bermula dari Jumadi, seorang nelayan kecil di tepi Pantai Ketapang, Mauk. Pada Oktober 1945, di tengah suasana perjuangan kemerdekaan, ia mendengar kabar bahwa pemerintah RI di Tangerang yang dipimpin Bupati Agus Padmanegara telah dihancurkan oleh sosok bernama Usman. Usman adalah seorang komunis yang melancarkan gerakan bawah tanah dan menolak Pemerintah RI.
Usman membentuk sebuah kelompok bernama Laskar Ubel-Ubel Hitam yang digambarkan seperti kelelawar malam haus darah. Mereka melakukan aksi teror, membunuh, serta merampok harta penduduk di wilayah Mauk, Kronjo, Kresek, dan Sepatan. Puncaknya, pada 12 Desember 1945, kelompok ini membubarkan aparatur pemerintah dari tingkat desa hingga kabupaten dan membunuh pejabat penting di Mauk.
Pada pagi hari, 20 Desember 1945, sekitar pukul 08.30 WIB, Jumadi menyaksikan dari kejauhan di balik semak pantai sebuah kejadian yang mengerikan. Salah satu anggota komplotan Usman bernama Mujitaba memancung kepala seorang lelaki di tepi Pantai Ketapang. Jasad lelaki tersebut kemudian dilarung ke laut dan hilang ditelan ombak. Saat itu, Jumadi tidak tahu siapa orang yang dieksekusi tersebut.
Baru 14 tahun kemudian misteri itu terungkap. Orang-orang penting dari Jakarta datang menemuinya dan menjelaskan bahwa lelaki yang dipancung itu adalah Raden Otto Iskandar Dinata, Menteri Pertahanan RI pertama dan tokoh berjasa dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Karena jasadnya tidak pernah ditemukan, keluarga Otto Iskandar Dinata mengambil gundukan pasir dari Pantai Ketapang sebagai simbol jenazahnya. Menjelang akhir 1952, warga Bandung menyaksikan prosesi pemakaman kembali sang tokoh. Putra Otto, Sentot Iskandar Dinata, memanggul peti berisi pasir dan air laut yang telah didoakan oleh Penghulu Jaksa Tangerang.
Peti berisi simbol jenazah itu dimakamkan pada Minggu, 21 Desember 1952, di Taman Bahagia, daerah Lembang. Hingga kini, para peziarah hanya bisa menziarahi pasir dan air yang menjadi saksi kebengisan Laskar Ubel-Ubel Hitam bentukan Usman. Sosok “Sang Jalak Harupat” itu kini hanya berwujud segenggam pasir di makam pahlawan, sebuah akhir tragis akibat keganasan kelompok komunis bawah tanah.
Sumber Penulisan
Afifi, Anab & Thowaf Zuharon. (2015). Jasad Otto Dilarung Setelah Kepalanya Dipenggal. Dalam Ayat-Ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI (hlm. 84–91). Jakarta: Jagat Publishing.










Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.