Teror Ce’ Mamat dan Ambisi Komunisme di Tanah Banten

Ia berhasil lolos dari ancaman kurungan jeruji penjara Digul, Papua, pada 1926. Padahal, pada tahun itu, ia merupakan sekretaris PKI cabang Anyer yang mendalangi pemberontakan Komunis tahun 1926. Dari Banten, ia berhasil kabur ke Malaya dan terus membangun jejaring komunikasi dengan jaringan komunis Internasional.

Ia dijuluki Ce’ Mamat. Di Malaya, ia dibimbing oleh Tan Malaka yang bersembunyi di Bangkok dari kejaran VOC Belanda. Setelah kompeni Belanda menurunkan pengawasan terhadap gerakan komunis, ia baru pulang ke Nusantara, tetapi berhenti di Palembang.

Pulau Jawa masih belum aman untuk ia datangi. Di kota yang terletak di tepian sungai Musi, ia mendirikan Klub Studi Politik. Gara-gara aktivitasnya ini, ia sempat masuk penjara Palembang, tetapi tak lama kemudian dibebaskan.

Setelah keluar dari penjara Palembang, ia pulang ke Banten dan bekerja sebagai pengacara, agar tidak dicurigai oleh kompeni Belanda. Sembari menjadi pengacara, selama Perang Dunia ke-2 dan zaman penjajahan Jepang, ia mengadakan hubungan dengan kelompok-kelompok komunis di luar Banten. Pada tahun 1944, ia dan banyak teman komunisnya ditangkap Kempetai, lalu dimasukkan ke dalam penjara. Menjelang kemerdekaan, Ce’ Mamat keluar dari penjara Jepang.

Pada bulan Juni 1945, Ce’ Mamat dan berbagai tokoh komunis Banten menggelar sebuah pertemuan rahasia yang kemudian dikenal sebagai pertemuan Rangkasbitung. Dalam pertemuan Rangkasbitung itu, hadir pula seorang tokoh pergerakan yang menyamarkan namanya menjadi Ilyas Husein, tetapi sebenarnya bernama Tan Malaka. Sebagian besar pemuda yang hadir dalam pertemuan itu, menyatakan akan memutuskan setiap hubungan kerja sama dengan Jepang dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sebagian kecil lainnya berpendapat, masih perlu menjalin kerja sama dengan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Di tengah hiruk pikuk perdebatan, Tan Malaka mengemukakan pendapatnya, supaya perbedaan taktis itu hendaknya diselesaikan di konferensi Jakarta saja. Kemudian, Tan Malaka menambahkan, perlu dibentuk sebuah organisasi sendiri dengan pemimpinnya sendiri yang sama sekali tak berhubungan dengan Jepang. Organisasi itu bernama Dewan Rakyat. Akhirnya, pertemuan diakhiri dengan memilih Ilyas Husein alias Tan Malaka sebagai wakil Banten. Selain itu, terpilih juga enam orang radikal lainnya, salah satunya adalah Ce’ Mamat.

Hubungan tokoh-tokoh revolusioner di Banten dengan Tan Malaka pada periode Jepang hingga masa awal kemerdekaan Indonesia, terjalin dengan dekat. Tokoh besar yang riwayatnya diselubungi misteri itu berhasil menanamkan pengaruh kuat di kalangan tokoh-tokoh tersebut. Didirikannya Dewan Rakyat oleh Ce’ Mamat diyakini, adalah arahan Tan Malaka kepada segenap eksponen perjuangan di Banten.

Pembunuhan Liar Kekacauan politik dan kekosongan pemerintahan, menyebabkan munculnya tindakan-tindakan beberapa kelompok politik. Terutama para veteran pemberontakan 1926, yang akan membalaskan dendam mereka kepada pejabat pemerintah, polisi, dan penduduk yang menentang paham komunis.

Suasana revolusi yang ganas, mendorong kaum ulama mengambil alih kepemimpinan. Atas dasar itulah, K.H. Achmad Chatib diangkat sebagai Residen Banten. Kendati demikian, pemerintahan yang baru itu tak dapat segera mengendalikan keadaan. Pembunuhan para komunis terhadap para penduduk tetap terjadi di mana-mana.

Ce’ Mamat dengan Dewan Rakyat-nya semakin leluasa bergerak. Pada level tertentu, mereka menjelma menjadi penguasa Banten yang sesungguhnya. Tujuan mereka hanyalah satu: menjadikan Indonesia dan Banten sebagai negara berpaham komunis.

Beberapa media massa di Jakarta memberitakan, Banten di bawah kendali Dewan Rakyat akan memisahkan diri dari Republik. Aksi bersenjata untuk membubarkan Dewan Rakyat pun dilakukan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Namun, hal itu tak semudah yang diperkirakan pemerintah Jakarta. Dewan Rakyat tetap berkuasa.

Hingga akhirnya, Presiden Soekarno disertai Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Jaksa Agung Mr. Kasman Singodimedjo, mengunjungi Serang dan Rangkasbitung pada 9 hingga 12 Desember 1945. Dalam pidatonya di Rangkasbitung, Bung Karno berharap agar persatuan nasional dijaga dalam bingkai Negara Republik Indonesia. Bung Hatta yang terkenal pendiam pun turut bicara, dan mengatakan, Dewan Rakyat tak berguna dan harus dibubarkan.

Meneror Soekarno-Hatta dengan Membunuh Bupati Lebak Ketika Bung Karno dan Bung Hatta berada di Rangkasbitung, beberapa anggota Dewan Rakyat malah semakin menjadi-jadi. Mereka menculik dan membunuh Bupati Lebak R.T. Hardiwinangun di daerah Cisiih. Para penculik datang kepadanya dengan mengaku sebagai utusan Presiden Soekarno. Peristiwa pembunuhan itu bertujuan untuk menunjukkan kepada Presiden Soekarno, bahwa Dewan Rakyat tidak main-main dengan tujuannya. Pembunuhan itu mengakibatkan adu kekuatan dengan pihak tentara tidak dapat dihindarkan. Pada akhirnya, Dewan Rakyat dibubarkan, dan para pembunuh Bupati R.T. Hardiwinangun berhasil ditangkap. Banten tetap menjadi bagian integral Republik Indonesia.

Pembunuhan Hardiwinangun menyebabkan Dewan Rakyat banyak kehilangan pendukung. Kaum ulama cemas melihat jalannya peristiwa itu. Bagi pihak tentara, mendesaknya situasi diperjelas ketika laskar-laskar Dewan di Serang pada tanggal 31 Desember 1945 menangkap Entol Ternaya, perwira senior TKR dan Oskar Kusumaningrat, mantan Kepala Polisi Keresidenan Banten.

Penculikan dan Perampokan Tak Berkesudahan Pada hari itu juga terjadi pertempuran di Pandeglang ketika pendukung Dewan Rakyat berusaha untuk merebut senjata milik satuan TKR setempat. Selanjutnya tanggal 2 Januari 1946, Dewan Rakyat di Rangkasbitung menuntut penggantian Bupati Kyai Abuya Hasan dan pengangkatan sebuah direktorium untuk mengawasi semua bagian pemerintahan dan semua pasukan bersenjata revolusioner.

Melihat adanya penculikan dan perampokan, Residen menginstruksikan kepada Pimpinan TKR Banten untuk secepatnya menumpas gerakan Dewan Rakyat. KH. Syam’un segera memanggil Ali Amangku, Tb. Kaking untuk menyusun siasat penumpasan. Langkah pertama adalah membebaskan R. Hilman Jayadiningrat dari penjara Serang yang tidak mengalami kesulitan. Kemudian, mereka menyerang Markas Besar Dewan Rakyat di daerah Ciomas. Hilman Jayadiningrat dan para Priyayi lainnya yang masih dipenjarakan oleh Dewan Rakyat, dibebaskan dan dibawa ke Sukabumi.

TKR di Rangkasbitung menuntut pembubaran Dewan Rakyat. Tuntutan itu tidak dipenuhi, maka terjadilah pertempuran. Pasukan Dewan Rakyat dengan mudah dikalahkan. Pada tanggal 8 Januari 1946 Pasukan TKR dari tiga kota penting di Banten menyerang pasukan Dewan Rakyat di Ciomas. Pertempuran yang berlangsung lebih dari 24 jam, baru berhenti setelah ada campur tangan pribadi Residen Akhmad Khatib.

Ce’ Mamat Tamat Dewan Rakyat akhirnya terpecah. Beberapa pemimpinnya yaitu Ce Mamat, Ali Arkam dan Akhmad Bassaif ditangkap. Sebagian besar anggotanya ditawan, sedangkan sisanya melarikan diri ke daerah Lebak. Oskar Kusumaningrat dan Entol Ternaja yang ditahan di tempat itu, dibebaskan. Kedudukan K.H. Akhmad Khatib tetap tidak tertandingi dan kaum ulama terus menduduki semua pos pemerintahan yang penting. Tamat sudah akhir riwayat keganasan Ce’ Mamat.


Sumber: Artikel asli “Pembunuhan Bupati Lebak oleh Ce’ Mamat dan Perampokan tak Berkesudahan”, dalam buku Ayat-Ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI, karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon, diterbitkan oleh JAGAT Publishing / Cordoba Books, Cetakan I, Oktober 2015.

Author: AdminSejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *