Berikut adalah penulisan ulang naskah Amini Anjuran Alimin, Lalu Darah Tumpah Sia-Sia berdasarkan sumber yang tersedia:
Pada sebuah pertemuan rahasia di malam hari pada Juni 1925, para pengurus pusat Partai Komunis Indonesia (PKI) mengamini anjuran **Alimin** untuk melakukan pemberontakan serentak di seluruh nusantara pada Juli 1926. Tekad ini diperkuat dengan kondisi udara malam yang dingin namun membakar semangat para aktivis tersebut.
Selama setahun penuh sebelum rencana pemberontakan dijalankan, Alimin menyusun serentetan aksi pemogokan buruh, tani, dan nelayan secara berurutan di berbagai kota besar seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dan Medan. Hingga Mei 1925, tercatat sudah terjadi 65 kali pemogokan yang melibatkan tiga ribu anggota komunis, ditambah serangan gencar dari surat kabar revolusioner seperti *Api*, *Merdeka*, dan *Proletar* terhadap pemerintah kolonial.
Hasrat para aktivis PKI untuk menumpahkan darah serdadu Belanda digambarkan sangat haus, seperti tokoh Bima yang ingin meminum darah Dursasana. Pada Desember 1925, para pemimpin PKI kembali mengadakan pertemuan kilat di **Prambanan** yang dipimpin oleh Alimin dan dihadiri tokoh-tokoh seperti Budi Sucipto, Aliarcham, Sugono, hingga Said Ali yang mewakili wilayah Sumatra. Pertemuan ini mematangkan keputusan untuk memberontak pada Juli 1926 dengan mempersenjatai petani dan menarik simpati serdadu pribumi.
Pemerintah Hindia Belanda mulai bertindak keras dengan mencoba menangkap Muso, Budi Sucipto, dan Sugono pada Januari 1926, namun mereka berhasil melarikan diri ke luar negeri seperti Singapura untuk merundingkan kembali keputusan Prambanan. Menariknya, rencana pemberontakan ini sebenarnya **tidak disetujui oleh Tan Malaka** (wakil Komintern untuk Asia Tenggara) dan bahkan oleh **Stalin** di Rusia karena situasi dinilai belum siap. Namun, para tokoh PKI yang tersisa di Indonesia tetap nekat melaksanakannya meskipun pimpinan tinggi mereka sedang melarikan diri.
PKI menjalankan propaganda dengan memaksa penduduk membeli “karcis merah” seharga satu setalen sebagai tanda untuk melakukan huru-hara pada 12 dan 13 November 1926. Pemberontakan akhirnya pecah pertama kali di Jakarta pada sore hari 12 November dengan menyerang polisi, merusak kabel telepon, menyerbu penjara Glodok, dan daerah Jatinegara. Massa bersenjata golok, tombak, dan senjata api rampasan juga muncul dari Kampung Karet, Mangga Dua, dan Tanah Abang,.
Aksi serupa meluas ke Tangerang, Banten, Priangan, Solo, hingga Sumatra Barat. Di Priangan, pemberontak merusak rel kereta api di Rancaekek, sementara di Batujajar mereka membakar rumah kepala desa,. Di Sumatra, pusat pemberontakan terjadi di **Silungkang (Sawahlunto)** pada 1 Januari 1927 yang dipimpin PKI dan Sarekat Rakyat. Di sana, PKI menggunakan tipu muslihat dengan menjanjikan bantuan pesawat tempur dari Turki yang ternyata hanya isapan jempol belaka.
Pada akhirnya, gerakan ini berhasil dipatahkan dengan mudah oleh Belanda karena hanya sebagian kecil sasaran yang terpenuhi,. Hingga 12 Januari 1927, Belanda menyita ratusan bom, menghukum gantung 9 orang, dan menahan 13.000 orang. Tragisnya, banyak dari mereka yang ditahan adalah petani dan buruh yang hanya terkena hasutan, sementara pemimpin PKI seperti Muso dan Alimin menghilang tanpa jejak,. Pemberontakan ini berakhir dengan pembuangan ribuan orang ke penjara Digul, meninggalkan nestapa bagi keluarga yang ditinggalkan. **
Sumber tulisan:
Afifi, A., & Zuharon, T. (2015). Ayat-Ayat yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah para Kyai, Santri, dan Penjaga NKRI oleh Aksi-Aksi PKI. Jakarta: Jagat Publishing.









